Monumen Suryo

Siang itu udara cukup panas, namun tak membuatku mengurungkan niat untuk pulang. Ya pulang adalah suatu kata yang selalu membawa kerinduan. Ngawi… I will come back.

petualangan

Kali ini aku mengambil rute yang tidak biasa kulewati. Biasanya aku lebih suka lewat jalur alternatif yang tidak banyak kendaraan. Yaitu rute Sragen – sine – Ngrambe – My Home. Rute kali ini adalah rute Bis Surabaya-Jogja. Yup kebanyakan orang yang bepergian antara dua kota itu pasti tidak asing lagi. Bagi yang melintasi ngawi menuju solo tentu akan melewati sebuah situs bersejarah tahun 50-an. Sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang salah seorang gubernur Jawa Timur yang meninggal di sana. Monumen Suryo. Hitung-hitung belajar sejarah dan sekalian ingin tahu lebih banyak mengenai situs yang merupakan salah satu tempat wisata milik Ngawi ini, maka kuniatkan untuk mampir sejenak sebelum pulang.

Bersama 6020 (baca Gozo), motor kesayanganku yang namalengkapnya AE 6020 JN, kususuri jalan dan berhenti di jalan masuk …..

arah masuk monumen soeryo

Agak ndredeg rasanya, karena seumur hidup baru sekali ke tempat ini. He..he…

Dengan malu-malu (aku kan pemalu..) aku menuju pos petugas sambil menebak-nebak kira-kira mbayar berapa ya? Ternyata di Pos tidak ada petugas. Melihat orang lewat masuk begitu saja, aku ikut-ikutan masuk. Bersama 6020 mengelilingi kompleks tersebut. Mulai tampak di mataku ( asli bukan penampakan) ada pendopo, mushola kecil, bangku-bangku..tapi ups rumput-rumputnya lumayan lebat, pagar pembatas, dan alat permainan (kayaknya sebangsa bandulan) banyak yang rusak.

Rasanya jadi sedih melihatnya. Kulihat sekeliling ada sekelompok anak muda sedang bergurau, disisi lain ada bapak-bapak duduk-duduk istirahat. Lumayan sepi tempat ini.

papan peringatan rawan pohon tumbang

Ku lajukan 6020 pelan-pelan menuju tugunya pak Suryo. Kan mau belajar sejarah, smoga dapat tambahan ilmu. Kompleks monumen ini dipagari namun ada jalan kecil yang bisa

Mushola di Monumen soeryo

dilewati. Sepertinya jalan kecil ini di desain untuk pejalan kaki. Tapi kulihat di ujung jalan ada motor yang sudah nangkring disana. Jadi ku pikir tidak apa –apa 6020 ku bawa kesana. Daripada diparkir jauh.

Kupandangi monumen pak Suryo. Membayangkan peristiwa ngeri yang menimpa beliau. Di monumen itu ada 3 patung. Paling depan Pak Suryo dan di belakang beliau ada 2 orang berseragam. Mereka berdua adalah Kombes Pol M. Doeryat dan Kompol Tk I Soeroto.

monumen soeryo

Tak jauh dari situ terdapat tugu yang menceritakan kronologis peristiwa meninggalnya pak Suryo. Dengan hati-hati ku baca tulisan pada tugu:

Tugu yang menceritakan kronologis peristiwa

” Riwayat Singkat Peristiwa Pembunuhan Gubernur Soeryo, Kombes Pol M. Doeryat dan Kompol Tk I Soeroto

Gubernur Soeryo setelah selesai mengikuti rapat di Yogyakarta, dalam perjalanan pulang ke Jawa Timur.

  1. KRMA Soeryo diberi tahu oleh masyarakat Sragen di Sidolaju agar beliau menunda perjalanan karena ada penghadangan tentara merah PKI
  2. Di dukuh Bigo beliau dihadang oleh tentara merah PKI dan dari arah timur datang rombongan Kombes M. Daryat dan Kompol Tk I Soeroto ditawan oleh tentara merah PKI
  3. Kendaraan Gubernur Soeryo dibakar di sebelah utara jalan raya lebih kurang 100m dari jalan raya
  4. Beliau bertiga dibawa tentara dengan tangan diikat dibelakang dan mata ditutup serta disiksa dalam perjalanan
  5. Akhirnya beliau bertiga dibunuh di kali katak di wilayah hutan RPL Kricak BKPH Sonde atau di wilayah dusun Sonde Desa Bangunrejohar Kecamatan Pitu. Jenazah beliau bertiga diketemukan kurang lebih 2 minggu setelah kejadian. ”

Pada monumen juga terdapat kronologis peristiwa seperti tertulis pada tugu tetapi berbentuk gambar reliaef yang terletak dibawah patung dan mengitari monumen.

salah satu relief pada monumen

Ada keinginan untuk melihat relief lebih dekat. Kulihat monumen tidak dipagar dengan sempurna. Rantai yang mengitari monumen banyak yang putus. Jadi kuputuskan mendekat.

Monumen diresmikan oleh May Jend TNI AD Witarmin Pangdam VIII Brawijaya pada oktober 1975

Pelan-pelan ku berjalan mencoba mengitari monumen dan masya Allah… aku tidak berani mendekat ada sepasang manusia sembunyi di balik monumen. aku tidak ingin tahu apa yang mereka lakukan. ternyata kondisi situs ini memang parah. maka cepat-cepat aku meninggalkan lokasi, mencari petugas pengelola. banyak yang ingin ku tanyakan..(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *